Ayah... aku merasa kita sekarang semakin jauh... bukan merasa, tapi faktanya kita memang jauh karna jarak yang memisahkan.
Waktu itu, jarak kita sangat dekat, tapi kita masih tetap berjauhan...
Tak ada obrolan, tak ada candaan, tak ada pelukan ataupun sekedar berbagi cerita di senja hari melihat jingganya matahari terbenam menunggu malam... Tak ada.
Dulu...
Waktu itu... aku masih ingat saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kita sempat dekat Ayah... kau menuntunku dan mendengarkan aku mengaji surat-surat pendek. Hingga akhirnya kau tertidur ba'da subuh itu, meski sepertinya kau masih tetap mendengarkan aku mengaji.
Ayah...
Waktu itu bulan ramadhan, aku selalu berbuka saat tiba waktu adzan dzuhur berkumandang. Belum pernah sampai ashar apalagi sampai magrib. Tapi, waktu itu... kali pertamanya aku berpuasa hingga adzan magrib itupun karna aku tertidur sampai ashar, dan aku memutuskan untuk berbuka waktu magrib.
Waktu itu... kau berkata "Iya sampai magrib aja sekali ini mah, kan anak Ayah mah cerdas". dan akhirnya kau mengajak aku jalan ke alun-alun kota. Berdua...
Ayah...
Waktu itu... Setiap kali ayah pulang kerja aku selalu digendong ayah, padahal ayah masih capek karna baru nyampe rumah. Tapi engkau tetap bersemangat menggendong anakmu ini...
Ayah...
Waktu itu aku sempat bercerita banyak, tentang sekolah, tentang teman-teman dan celoteh-celoteh lucuku dulu. Kita akrab, bersama ibu dan kakak-kakak.
Ayah...
waktu itu aku sakit, aku tau ayah khawatir. Tapi aku tak begitu menghiraukannya...
Ayah dan masa kecilku... Tak sepenuhnya aku dapat mengekspresikan kebahagiaanku akan segala bentuk sekecil apapun yang engkau persembahkan untuk anakmu ini.
Ayah...
Jujur aku rindu masa-masa itu...
masa dimana aku injakkan kaki ini di atas punggungmu hanya untuk sekedar menghilangkan sedikit rasa capek dan pegalmu itu.
Ayah...
Waktu itu aku bersama ayah menunggu warung di jalan yang deket trotoar itu, aku tertidur dan ayah mengipas-ngipas badan ini karna panasnya malam Ibu Kota Jakarta.
Terimakasih atas perhatian itu Ayah...
Hingga akhirnya kini ku beranjak dewasa... kita tak sedekat dulu. Ayah sekarang berubah. Tak semua perkataanku dan obrolanku kini ayah terima. Ayah selalu ingin menang dengan pendapat Ayah. Meskipun begitu, aku tak marah ayah...
Ayah...
waktu itu saat aku mengikuti test seleksi, ayah meminta ijin agar dapat mengantarkanku. Tapi aku menolak tak mau diantar. Bukan aku malu ayah... bukan karna aku merasa udah jadi anak gede, aku hanya takut ayah kecewa kalo aku nanti gagal atau nggak diterima...
Ayah...
Menurutku kasih sayang Ayah tak selalu diekspresikan secara blak-blakkan... Kini aku mengerti Ayah...
Ayah...
Menurutku kasih sayang Ayah tak selalu diekspresikan secara blak-blakkan... Kini aku mengerti Ayah...
Ayah... intensitas kita bertemu semakin terbatas. semoga do'a-do'a yang terhaturkan tidak pernah terhalang oleh ruang dan waktu...
Thank's for all Ayah...
Aku akan berusaha untuk membuat ayah bahagia... ♡♡♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar