|
Spesifikasi
|
|
|
Judul Buku
|
Nikah Yuk!
|
|
Penulis
|
Maulida Mawarti Sasmi
|
|
Jenis Buku
|
Remaja dan Dewasa
|
|
Target Pembaca
|
17 th ke atas
|
|
Fisik Buku
|
Halaman Naskah : 150 Halaman
|
|
|
Ukuran Buku : 15x10 cm
|
|
|
Perkiraan Halaman Buku : 200 Halaman
|
|
|
Perkiraan Harga Jual : 40.000 – 50.000
|
|
Latar Belakang
|
|
|
Konsep
|
Mengajak Para Pemuda Pemudi untuk Memahami
Makna Menikah yang sebenarnya dengan tujuan agar terhindar dari hal-hal yang
mendekati zina. Sehingga bisa memilih untuk menikah atau tetap single sampai
halal.
|
|
Manfaat Pembaca dan Kelebihan
|
Menambahkan semangat bagi pembaca agar
senantiasa selalu berusaha untuk memperbaiki diri di hadapan-Nya dalam
masa-masa menjemput jodoh.
|
|
Strategi Pemasaran
|
Via Media Sosial dan promo ke
Lembaga-lembaga pendidikan. Sekolah atau Universitas.
|
What Do You Think about Marriage?
Apa yang kamu pikirkan
tentang pernikahan? Bagiku begitu sulit untuk mengurai kata-kata seputar
pernikahan ini. Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi entah mengapa pikiran
ini tak mampu untuk menuangkannya. Pikiran terasa kosong benar-benar
tidak ada jalan keluar untuk menguntai kata-kata melalui pena. Setelah dilihat
permasalahannya hal yang menurutku sensitif ini (pernikahan) ternyata tidak
hanya bisa dipikirkan saja. Tetapi harus dirasakan oleh hati yang suci dan bersih.
Jika dilihat dari
kehidupan yang aku cermati. Pernikahan adalah ikatan suci antara perempuan dan
laki-laki yang bukan muhrim menjadi muhrim setelah dihalalkan melalui akad.
Manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah
yang kamu dustakan? Sedangkan Allah SWT., telah memberikan solusi hidup yang
lebih bahagia, berwarna dan disukai-Nya melalui pernikahan yang suci ini.
Lalu bagaimana dengan
orang-orang yang memilih hidupnya untuk sendiri dulu tanpa mempunyai pasangan?
Dari pertanyaan ini pasti banyak jawaban sesuai dengan masalah dari dalam diri
orang-orang yang bersangkutan. Dengan alasan karena ingin memperbaiki diri di
hadapan-Nya, ingin menikmati masa-masa sendiri, atau mungkin karena merasa
trauma untuk berpasangan setelah disalah gunakan kepercayaannya oleh pasangan
sebelumnya. Semua alasan itu sah-sah saja, karena setiap manusia mempunyai hak
untuk berpendapat. Intinya tidak ada yang tahu isi dari segumpal daging yang
ada di dalam diri ini (hati) selain dia sendiri yang merasanya.
Akhir-akhir ini tengah digemparkan dengan seorang
pemuda berumur 17 tahun yang meminang seorang wanita muallaf. Adakah para
pemuda yang lainnya merasa cemburu menyaksikan pemuda yang masih sangat belia
ini mempunyai keberanian tingkat tinggi. Tapi, perlu digaris bawahi seperti
apakah pemuda 17 tahun ini? Sosoknya? Akhlaknya? Dan kepribadiannya? Setelah
saya selidiki ternyata dilihat secara lahir batin pemuda ini memang sudah siap.
Pernikahannya pun disetujui oleh kedua orang tuanya dan guru-guru serta
ustadz-ustadz dari berbagai pesantren yang dulu tempat pemuda tersebut menimba
ilmu. Semua ini direstui oleh berbagai pihak.
Setiap manusia antara
yang satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan yang sangat jauh.
Perbandingan antara pemuda 17 tahun yang mempunyai pengalaman belajar di
berbagai pondok pesantren di belahan dunia dengan pemuda 17 tahun yang baru
lulus sekolah lanjutan tingkat atas tentu tidak bisa disamakan apalagi dengan
berbagai pengalaman yang berbeda. Jadi kesiapan seseorang untuk mempertahankan
prinsip nikah muda itu relatif. Tergantung situasi dan kondisi yang ada pada
diri masing-masing.
Tentulah dengan segala
kemudahan dan solusi hidup yang telah Allah SWT. karuniakan kepada ummat Islam
merupakan suatu bahan renungan untuk dipikirkan. Jika memang sudah siap lahir
batin maka hukum menikahpun menjadi wajib dan harus diselenggarakan. Tetapi
jika memang belum siap, waktu masih panjang dan jadikanlah masa-masa kebebasan ini
menjadi quality time dalam menyempurnakan ibadah kepada-Nya
Marriage Is My Life
Menikah adalah hidupku.
Sepertinya pernyataan ini sedikit terkesan blak-blakkan. Tapi apapun yang
terjadi tegakkanlah prinsip hidupmu setinggi-tingginya. Hehehe. Bagi seseorang
yang masih alone menikah bagaikan misteri dalam hidupnya. Maksudnya
misteri disini bukan berarti sesuatu yang mistis ya, tapi lebih kepada artian
penuh teka-teki dalam menemukan calon pasangan hidupnya yang benar-benar tulus.
Menikah adalah separuh
dari Agama. Benar-benar luar biasa, tapi bagi yang belum menikah hal ini masih
dipertanyakan karena belum bisa mendefinisikan secara pasti untuk menunjukan
kevalidan tentang pernyataan ‘menikah adalah separuh dari Agama. Tetapi saya
pernah menyimak salah satu hadis dari salah satu ustadz yang menjelaskan dalam
kitab safinah (Fiqih).
Dari Anas Bin Malik R.A.
Nabi SAW. Bersabda:
“Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang solihah, berarti
Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu,
bertaqwalah kepada Allah setengah sisanya. (HR. Baihaqi).
Jadi menikah adalah
solusi hidup yang lebih bahagia dan lebih berwarna dengan segala keindahan di
dalamnya lengkap dengan masalah-masalah yang ada di dalamnya pula.
Menunda Menikah
Menunda menikah dalam keadaan siap
lahir batin adalah dosa hukumnya. Karena jika memang sudah siap mengapa harus
ditunda-tunda lagi. Ada beberapa masalah yang membuat seseorang menunda
menikah. Tepatnya seorang laki-laki yang enggan untuk melamar calon istri atas
pilihannya.
· Memperbaiki diri di Hadapan-Nya
Alasan yang satu ini cukup realistis
meski akan ada sanggahan seperti : Meskipun sudah menikah, tetap masih bisa
untuk memperbaiki diri di hadapan-Nya dan tentunya lebih sempurna karena
dilakukan berdua bersama-sama dengan pasangan. Sanggahan seperti ini juga bisa
dibenarkan karena memang itu kenyataan yang ada.
Kesiapan
Kedua alasan seseorang menunda
menikah adalah kesiapan. Kesiapan disini berarti ada beberapa hal yang harus
diselesaikan sebelum menikah. Seperti sekolah atau kuliah yang belum selesai. Belum
mendapatkan pekerjaan, belum bisa menafkahi kedua orang tua sehingga hal ini
menghambat untuk menikah. Sebenarnya alasan ini bisa diselesaikan dengan
seiring berjalannya waktu. Sehingga kebaikan di dalamnyapun dua kali lipat. Tapi
apapun itu, setiap diri pasti lebih mengetahui apa yang diinginkannya jika
memang ingin menyelesaikan sekolah, bekerja, fokus terhadap orang tua merupakan
alasan menunda menikah, konsekuensi yang harus diambil adalah single sampai
halal. Jangan sampai tergoda atau memilih jalan yang salah, jalan yang tidak
diridhoi Allah SWT., menjalin hubungan tanpa status yang jelas.
· Memiliki Prioritas Lain
Ketiga, alasan pemuda menunda menikah
adalah karena mempunyai kepentingan lain seperti menginginkannya kebebasan
tanpa larangan ini dan itu. Aktif di berbagai organisasi yang menyita waktu
dalam kesibukan. Hal ini sangat dikhawatirkan bagi kaum laki-laki jika sudah
menikah nanti tidak diijinkan oleh sang Istri untuk aktif kembali di organisasi
dan karena memang tidak ingin waktu kebersamaan bersama keluarga kecilnya
berkurang karena digunakan oleh kegiatan pribadinya meski kegiatan ini
berhubugan dengan orang banyak. Maka orang seperti ini akan menunggu waktu yang
pas untuk menjemput jodoh dan menikah.
Nikmatilah indahnya berbagai macam perbedaan. Karena
setiap manusia mempunyai perbedaan yang unik antara yang satu daan yang
lainnya. Kunci dari pernikahan ini sebenarnya simpel, yaitu komitmen. Komitmen
untuk saling memberikan kebahagiaan satu sama lain dalam kebebasan dan tetap
tidak keluar dari koridor komitmen yang telah disepakati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar