Minggu, 27 Maret 2016

Perjalanan ditemani Hujan....


weekend ini ku putuskan untuk bersilaturahim at my sweet home. temu kangen bersama keluarga... terkhusus ibu dan ayah tercinta...
rencana punya rencana planning untuk bersilaturahim at my sweet home tak jadi... ada beberapa hal yang menyebabkan planning ini tak terealisasi...
meski... aku ketemu ibu sama ayah di tempat yang berbeda... (rumah kakak) . . .
seminggu lamanya aku berada disini... hari terakhir disini, aku mendapatkan hikmah yang memang perlu dijadikan pelajaran. Hikmah pertama... "fastabiqulkhoirot" berlomba-lomba dalam kebaikan. artinya saat kita melakukan kebaikan dengan niat lillah tanpa mengharap balasan apapun maka disitulah  dapat merasakan nikmatnya belajar ketulusan. dan Allah adalah sebaik-baiknya pembalas...
hikmah kedua didetik-detik terahir aku dengan kebersamaanku... harus berhenti dulu sampai disini. melanjutkan kembali perjalanan yang lelah, penuh perjuangan tapi seru. akhirnya aku pamit di hari minggu yang sangat cerah, karna matahari terlihat muncul sepenuhnya sampai menjelang sore. dengan sebelumnya menikmati semangkuk bubur berdua di pagi hari bersama ibu tersayang dan makan siang bersama di teras rumah... terasa nikmat kebersamaan ini... Allah sang Maha penyayang... aku paham akan kasih sayangNya lewat petunjukNya akan pilihan yang harus aku pilih 2 tahun yang lalu. dimana aku harus pergi dari kebersamaan ibu dan ayahku untuk melanjutkan pendidikan, yang setiap harinya tanpa didampingi kedua orang tua. aku yang semangat, tak melulu memikirkan hal ini. dan aku memilih jalan ini, jalan menuju masa depan yang cerah karna aku yakin ini semua tidak lepas dari campur tangan dan keputusan dari-Nya... Toh selama ini aku berusaha untuk selalu meminta petunjuk-Nya. terus sekarang pertanyaannya apa yang membuat aku selalu berpikir ke belakang dengan pernyataan "andai aku dulu tak mengambil kesempatan ini". astagfirullah... padahal aku yang meminta Allah mengijabah harapanku. tp setelah harapan ini terwujud aku masih tak bersyukur...

astagfirullah... astagfirullah... astagfirullah... Allah... Engkau Sang Maha pemilik hati ini, engkau yang membolak balikkan hati ini, tetapkan hati ini untuk terus selalu bersyukur dalam apapun kondisinya...dan ada hal yang memang membuat pikiran ini terganggu. aku yang saat ini sedang dalam kondisi jauh dari ibu dan ayah aku memutuskan untuk berhenti sampai disini. apalagi saat Allah memberikan teguran aku langsung down dan gak pikir panjang... astagfirullah... padahal Allah sudah menjelaskan dalam QS. Al-Baqarah : 214
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat".

ayat ini mempunyai makna bahwa siapa yang dapat menjamin dirinya masuk surga padahal tahapan untuk mendapatkan tiket surga butuh proses. lalu apa yang menjadikan diri ini berputus asa saat Allah memberikan ujian dan merasa diri ini yang paling sengsara, yang paling terpuruk. sedangkan allah berjanji dalam firmannya   QS. Al-Baqarah:286 :

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

dan ayat ini merupakan penjelas bahwa setiap ujian yang Allah berikan adalah sesuai dengan kadar kesanggupan yang dimiliki oleh setiap manusia. dan intinya, hikmah yang kedua ini meski panjang tapi dapat disimpulkan bahwa apapun yang telah dijalani saat ini adalah yang terbaik... Jauh dari ibu dan ayah tercinta adalah bukan suatu kemauan kita yang mempunyai peran sebagai anak yang mempunyai kewajiban berbuat baik kepada ibu dan ayah tercinta. meski jarak yang memisahkan, raga yang selalu tak bersama semoga do'a yang selalu terhaturkan dapat mendekatkan ikatan hati ini... yakin bahwa ikatan batin antara anak dan kedua orang tua itu tak dapat diragukan lagi... dan diakhir waktu ashar aku pergi melangkahkan kaki dengan diantarkan ibu tercinta di belakang sana sembari melambaikan tangan. ku balaskan lambaiannya dan ku berikan seulas senyuman meski sudah tak begitu terlihat dengan jarak yang sangat berjauhan...

dan masih tetap seperti itu meninggalkan jejak-jejak buliran bening yang sudah 2 tahun ini selalu seperti ini...
~ aku bersama rintikan hujan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar